Bukan Sekadar Memilih, Santri Punya Peran Menjaga Demokrasi
|
MAMUJU— Masih dalam nuansa peringatan Hari Santri Nasional, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Barat bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Barat menggelar kegiatan sosialisasi bagi pemilih pemula melalui program kolaborasi Taki Siola. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa 27 Oktober 2026 berlokasi di Pondok Pesantren Attahiriyah Anahdiyah.
Kegiatan bertajuk "Sosialisasi Penguatan Kesadaran Hak Pilih dan Literasi Media bagi Pemilih Pemula dalam Mewujudkan Demokrasi yang Berkualitas" ini menghadirkan Anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Barat, Hamrana Hakim, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Hamrana Hakim menekankan pentingnya peran santri dan generasi muda sebagai pemilih pemula dalam mengawal proses demokrasi. Semangat santri yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, serta kemaslahatan umat dinilai menjadi modal dasar yang sangat kuat dalam membangun budaya demokrasi yang sehat dan berintegritas.
"Menjaga demokrasi bukan hanya sekadar hadir di TPS dan menggunakan hak pilih saat pemilu atau pilkada. Lebih dari itu, menjaga demokrasi adalah tentang memastikan setiap informasi yang kita terima dan sebarkan adalah benar, serta memastikan partisipasi politik dilakukan secara sadar dan kritis," ujar Hamrana Hakim.
Masih dalam nuansa peringatan Hari Santri Nasional, Hamrana juga menegaskan pentingnya peran santri dalam menyukseskan pemilu mendatang. Ia mengajak para santri untuk turut mengawal setiap tahapan pemilu serta menjadi pelopor demokrasi yang jujur, adil, dan berkualitas.
Sementara itu, KPID Sulawesi Barat, Hadrah, yang turut hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya literasi media bagi santri agar mampu menyaring informasi secara kritis di tengah derasnya arus informasi digital.
“Santri harus menjadi penyaring informasi, bukan sekadar penerima. Jangan mudah terprovokasi hoaks dan ujaran kebencian, serta jangan biarkan politik uang merusak demokrasi. Literasi media adalah kunci membangun generasi yang kritis dan bijak,” ujar Hadrah.
Melalui kolaborasi Taki Siola, Bawaslu Sulbar dan KPID Sulbar mendorong santri untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi, menangkal penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, serta menolak politik uang demi menjaga kualitas demokrasi.
Pesantren dipandang sebagai benteng moral sekaligus pusat peradaban yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai pengawasan partisipatif.
“Dari Pesantren, Kita Kuatkan Literasi. Dari Santri, Kita Rawat Demokrasi. Taki Siola untuk Demokrasi Berkualitas: Santri Cerdas, Hak Pilih Tuntas!”
Bawaslu Sulawesi Barat × KPID Sulawesi Barat
_Humas